Simplified

mulai dari yang paling sederhana

Great Power Comes Great Responsibility

with 4 comments

Pernah melihat film Spiderman? Kalau pernah, pasti tahu judul di atas. “great power comes great responsibility“, meskipun cuma di film tapi menurut saya memiliki makna yang sangat dalam. Kekuasaan, kekuatan, kekayaan berbanding lurus dengan tanggung jawab yang harus diemban. Sebuah filosofi yang idealnya harus dimiliki oleh orang-orang yang diberkahi dan diberi nikmat kelebihan dibanding orang-orang disekitarnya.

Semakin banyak / hebat kelebihan yang dimilikinya berarti semakin besar pula tanggungjawab yang harus dipikul dikarenakan kelebihannya itu. Sebenarnya tidak perlu orang-orang hebat, terkenal, atau pejabat sekalipun untuk memaknai dan meresapi filosofi ini. Setiap orang yang hidup di dunia, pasti dibekali kelebihan-kelebihan tersendiri dibanding orang lain disekitarnya. Saya yakin setiap orang juga punya peran masing-masing yang nggak kalah penting walaupun mereka orang kecil.

Berkaca pada kondisi kepemimpinan di sebagian besar masyarakat kita, pola pikir yang lebih banyak berkembang adalah siapa yang paling kuat maka dialah yang “berkuasa”. Sayangnya hanya sedikit yang kemudian melanjutkan dengan pola pikir “great power comes great responsibility” untuk mengontrol kata “berkuasa” tersebut. Akibatnya kekuasaan hanya dijadikan alat untuk memperkaya diri atau untuk kepentingan bisnis pribadi. Kekuasaan menjadi wahana untuk berkuasa kembali dan mempertahankan kekuasaannya. Idealnya, semakin tinggi kekuatan / kekuasaan harusnya semakin takut dia bila tidak dapat memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk melindungi dan mengayomi orang-orang dibawah kepemimpinannya.

Ataukah perlu para pemimpin kita untuk mempelajari filosofi Spiderman tersebut, yang lahir karena menyesal ketika tidak dapat menolong orang yang disayanginya padahal ia punya kekuatan dan kesempatan untuk mencegahnya. Atau menunggu sampai masyarakat di sekitarnya serta cucu-cucunya nanti mendapat getah dari perbuatannya baru memahami bahwa kekuasaan dan kekuatannya itu dapat mencelakakan orang lain bila tidak digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Advertisements

Written by rakhmawan

April 19, 2008 at 6:32 pm

Posted in Sosial & Budaya

Tagged with ,

Internet Access Per Host

with 4 comments

internet-access-per-hostDulu awal-awal Microsoft berkembang, Bill Gates punya suatu impian dimana setiap rumah di US mempunyai satu PC (Personal Computer) sendiri-sendiri, sekarang PC sudah menjamur di berbagai negara. Beberapa tahun belakangan ada ide yang dilontarkan oleh Nicholas Negroponte dimana dia mengembangkan notebook dengan harga terjangkau dengan harapan setiap orang bahkan seorang anak sekalipun memungkinkan untuk memilikinya. Proyek ini dinamakan OLPC (One Laptop Per Child), saat itu laptop mini tersebut direncanakan dijual dengan harga $100. Dua tahun ini sudah muncul laptop-laptop mungil berkonsep OLPC tersebut, salah satunya Asus Eee PC.

Nah sekarang sepertinya cocok kalau kita menunggu layanan akses internet murah he..he.. Mungkin nantinya akan ada jargon seperti internet access per host, setiap device yang support teknologi internet (IP based) bisa akses internet dimanapun dan kapanpun dengan harga murah (sangat berharap hihi). Apalagi sekarang sudah marak penggunaan IPv6, sehingga kekhawatiran akan kekurangan  IP Address sedikit berkurang, device seperti HP, PDA, UMPC, Laptop, ataupun PC bisa terkoneksi ke  internet dengan lebih mudah.

Sebenarnya sekarang pun device-device di atas sudah bisa terkoneksi ke internet dengan mudah. Tapi kekurangannya hanya satu, yaitu kurang murah he..he.., jadi agak enggan juga koneksi dari device seperti HP atau PDA dengan menggunakan jaringan GPRS atau 3G untuk browsing di internet. 

Mungkin salah satu syarat utama agar internet access per host dapat terwujud adalah harganya murah, seperti OLPC yang dibandrol dengan harga murah itu, akibatnya banyak yang rela antri beli. Biasanya harga jual suatu teknologi akan turun bila ada teknologi baru yang lebih baik masuk ke pasaran. Sepertinya tidak akan lama lagi karena WiMAX juga sebentar lagi datang atau ketika konsep RT/RW Net nya pak Onno sukses. Semoga.

Written by rakhmawan

April 17, 2008 at 11:37 pm

Posted in IT & Technology, Network

Tagged with ,

OMNeT++ Untuk Simulasi Urban Bus Traffic

with 10 comments

Kemarin waktu searching di Google tentang tutorial OMNeT++ dapat satu slide presentasi yang cukup menarik. Slide presentasi ini berasal dari Centre of Mathematical Modelling (CMM), University of Chille. Pada slide tersebut dilakukan simulasi public transportation di Chile dengan menggunakan software OMNeT++. Suatu implementasi sangat menarik, mengingat software OMNeT++ sebenarnya adalah Discrete Network Simulator gratis yang mirip network simulator lainnya seperti NS-2 ataupun OPNET.

Mungkin karena sifatnya yang discrete itu lah bisa digunakan untuk simulasi trafik yang lain asal traffic-nya discrete. Objek yang diteliti pada penelitian tersebut adalah public transportation network di kota Santiago de Chile. Bus dan penumpangnya dianalogikan sebagai paket, jalan raya sebagai links, dan bus stop, terminal serta perempatan jalan dimodelkan sebagai node behaviour .

Skala network yang dimodelkan pun tidak tanggung-tanggung, terdiri dari 5000 tempat tujuan (client host), 11000 jalan raya, 5000 bus, dan 4 juta penumpang.

Implementasi yang cukup menarik dari suatu Discrete Network Simulator. Sepertinya kota-kota besar seperti Jakarta juga perlu dimodelkan seperti tadi, tapi cukup kebayang rumitnya kalo memodelkan Jakarta he..he.. (delay-nya tinggi, jumlah packet-nya juga terlalu banyak). Contoh slide nya ada di sini.

Written by rakhmawan

April 16, 2008 at 2:13 pm

Install OMNeT++ dan INET Framework

with 6 comments

Gampang-gampang susah install OMNeT++ di UNIX, banyak dependency yang harus ikut di install sehingga butuh UNIX yang programnya mudah didapat dan di-install. OMNeT++ ini butuh compiler C untuk eksekusi module dan NED (bahasa untuk membuat topology) dari aplikasi yang akan disimulasikan.  Selain itu juga dibutuhkan aplikasi untuk mem-plot grafik yang dihasilkan dan software untuk mencetak dan supporting gambar-gambarnya (device, dll).

Kemarin coba-coba install di Ubuntu 7.10, dari kondisi standar Ubuntu yang fresh saja banyak dependency yang dibutuhkan belum ter-install.  Untung kalo install di Ubuntu sudah cukup banyak dokumentasinya dari beberapa sumber, walaupun masih kurang disana-sini tapi lumayan membantu. 

Setelah coba sana-sini akhirnya ter-install juga, sample-nya dapat jalan dengan sempurna seperti bila di-install di lingkungan Windows (XP atau Vista). Nah kalau di-install di Windows bisa dan mudah, kenapa harus susah-susah install di UNIX? Karena di Windows saya coba install INET Framework tidak jalan (INET Framework: salah satu modul di OMNeT++) ketika compiler nya saya coba Visual C++, padahal INET ini bagian penting untuk simulasi Tugas Akhir saya. INET saya gunakan untuk simulasi jaringan berbasis paket dan TCP/IP.

Sebenarnya ada cara lain agar INET Framework itu bisa jalan di Windows, yaitu compiler-nya menggunakan Cygwin. Tapi tetap saja bila menggunakan Cygwin maka cara install modul-modul yang lain akan mirip bila beroperasi di lingkungan UNIX bahkan akan lebih susah cari dependency-nya. Di tambah lagi dokumentasi untuk install di Windows lebih jarang bila dibandingkan install di UNIX.

Yah karena masalah sudah selesai, sekarang nikmati dulu OMNeT++ via Ubuntu. Mungkin lain kali akan dicoba di Windows dan UNIX lainnya.

Written by rakhmawan

April 15, 2008 at 12:55 am

Google Boso Jowo

with 23 comments

Iseng-iseng ketika searching di google.co.id, ganti pilihan bahasa. Sebelah kanan bawah klik “Boso Jowo“, reaksi ketika membaca tulisan-tulisannya pertama kali adalah tersenyum geli hihihihi… Siapa sih yang buat? Kok kosakata yang dipakai bikin ketawa 😀 .

google_boso_jowo

Bagi yang fasih berbahasa jawa pasti akan merasa geli membaca tulisan yang digunakan itu, apalagi yang sehari-harinya bahasa jawa yang digunakan “krama inggil” (baca: kromo inggil).  Frase yang paling membuat saya geli adalah “Kulo Kroso Bejo” kalau di google.co.id yang berbahasa Indonesia merupakan terjemahan dari “Saya Sedang Beruntung“. Are you kidding?

Mungkin yang mendesain memang ingin membuat orang yang menggunakan mesam-mesem (maklum selera humor orang jawa tinggi). Padahal ada frase lain yang agak sedikit formal, contohnya “Kulo Nembe Untung“, “Kulo Lagi Bejo“, atau “Aku Jek Bejo“. Tapi kayaknya juga nggak lebih baik dari yang “Kulo Kroso Bejo” he..he..Ada juga frase “Google Nggoleki“, kenapa nggak memakai bahasa krama inggil saja semisal “Google Ngucali” kan lebih enak rasanya. Anyway, cukup terhibur dan senang karena ada terjemahan bahasa daerah untuk mesin pencari paling pintar sejagat ini. Mungkin nanti ada juga untuk bahasa Sunda atau bahasa daerah lainnya. I hope so

Jadi pengen lihat Kamus Besar Bahasa Jawa, ada nggak ya?

Written by rakhmawan

April 13, 2008 at 10:39 am

Posted in Serba-Serbi

Tagged with , ,

Ragu Nulis Tentang Politik

with 6 comments

Semenjak nulis blog sampai sekarang belum pernah sekalipun saya menulis tentang hal-hal yang berbau politik walaupun kadarnya cuma sedikit (sebenarnya pengen juga sekali-kali). Bukan karena nggak suka politik, tapi karena bagi saya pribadi berpikir tentang politik itu berat. Politik itu surganya pro dan kontra, dan biasanya pendekatannya itu pendekatan konflik.  Nah ini dia yang saya kurang suka, pendekatan konflik! (jadi inget kuliah kapita selekta kemarin sama pak Ismail dari Postel.. he..he.. ).

Mungkin karena lumayan jengah juga dengan permainan-permainan politik di negeri ini. Yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah, fiuhhhh.. Sekali lagi bukan karena antipati terhadap hal-hal yang berbau politik, tapi cuma menyampaikan uneg-uneg kurang puas aja terhadap kondisi politik di negara ini. Saya mah rakyat kecil yang hanya bisa berharap agar bapak-bapak yang di atas sana itu sedikit lebih baik lagi mengabdi kepada negara.

Tapi walau bagaimanapun kurang beresnya politik, saya juga tidak setuju kalau ada orang yang bilang “Politik itu kotor jangan lah coba-coba masuk ke sana!“. Lah kalau semua orang beranggapan kayak gini, ntar yang masuk ke bidang politik nggak ada orang baiknya, bisa lebih bahaya tuh.. cilaka beranak pinak nantinya. Politik itu sangat penting dan fundamental bagi kehidupan bernegara, tapi ya itu semakin penting dan ‘basah’ bidangnya semakin banyak orang yang memperebutkannya.

Kalau ditanya, “Mau nggak masuk ke politik?”. Hmm.. Mungkin nanti deh kalo udah gede dan kalo jadi takdirnya he..he.. Btw jadinya kok malah nulis tentang politik nih hihihi.

Written by rakhmawan

April 12, 2008 at 4:19 pm

Posted in Curhat, Sosial & Budaya

Tagged with

Mewujudkan Paperless Office

with 6 comments

Jargon paperless office memang sudah menggema beberapa tahun lalu. Sejak kemajuan di bidang teknologi informasi dan komputer, manusia mendapatkan alternatif lain dalam mengolah dan membaca buku_digitalberbagai dokumen. Paperless office merupakan suatu cita-cita untuk membiasakan diri mengolah dan membaca dokumen dalam bentuk digital, dengan kata lain mengurangi pemakaian kertas sebagai bahan pokok penulisan dokumen seperti sekarang ini.

Memang maksud dari paperless office ini bagus, apalagi sekarang ini sudah banyak orang yang punya komputer, laptop, UMPC, maupun PDA yang bisa membaca dokumen-dokumen digital dengan mudah. Bila pemakaian kertas dikurangi maka penebangan hutan pun bisa ikut berkurang karena kayu sebagai bahan dasar pembuatan kertas permintaannya dikurangi.

Semenjak kuliah dan banyak menggunakan komputer, saya lebih banyak membaca-baca buku dalam bentuk ebook apalagi bahan-bahan kuliah yang diberikan dosen semuanya dalam bentuk slide presentasi. Akhirnya laptop jadi perpustakaan berjalan, banyak koleksi ebook dan bahan-bahan kuliah . Kalau mau baca-baca tinggal buka laptop.

Namun tetap aja manusia itu makhluk analog, masih suka yang berbau analog walaupun dimana-mana dimanjakan dengan produk digital. Saya termasuk yang kurang begitu suka membaca di depan komputer untuk bahan-bahan yang serius (apalagi Antena 🙂 ). Kalau membaca topik serius (dalam format digital)  lebih baik di-print dulu sebelum dibaca, lebih fleksibel dan nyaman.

Tapi pada dasarnya paperless office memiliki banyak manfaat selain ramah lingkungan karena tidak menambah sampah juga cukup membantu mengurangi tumpukan kertas di meja kerja atau belajar.  Ditambah lagi dengan format digital itu penyebaran informasi menjadi lebih mudah dan cepat.  Walaupun begitu bukan berarti tidak mempunyai dampak negatif, bila semua dosen menyuruh mahasiswanya mengumpulkan tugas kuliah dalam format digital, maka praktek copy paste akan semakin merajalela 😀 . Mungkin harus ada suatu kesepakatan bersama dulu dalam hal ini.

Just my opinion, bagaimana menurut anda?

 

Written by rakhmawan

April 11, 2008 at 12:50 am