Posts Tagged ‘Pendidikan’
Semboyan Ki Hajar Dewantara
Semenjak masih duduk di bangku SD sampai sekarang, saya masih ingat sekali semboyan dari Ki Hajar Dewantara berikut ini:
- Ing Ngarso Sungtulodo
- Ing Madya Mangunkarso
- Tut Wuri Handayani
Semboyan itu menggambarkan peran seorang guru atau pendidik dalam dunia pendidikan. Kumpulan peran yang cukup lengkap, yaitu: menjadi teladan, memberikan semangat, dan memberikan dorongan. Luar biasa sebenarnya seorang guru itu, bila dimaknai dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan berpengaruh sangat bagus kepada anak didiknya.
Dari ketiga semboyan tersebut yang paling banyak kita kenal sekarang adalah Tut Wuri Handayani, biasanya tertulis di topi siswa SD sampai dengan SLTA. Tapi sampai sekarang saya tidak tau (entah lupa atau tidak pernah tahu) kenapa yang lebih populer semboyan Tut Wuri Handayani (dari belakang mendorong) bukan Ing Ngarso Sungtulodo (dari depan memberikan teladan) ataupun Ing Madya Mangunkarso (dari tengah memberikan semangat) atau kenapa tidak ketiga-tiganya dipopulerkan? Ada yang tahu?
Anyway ikut mengucapkan: “Selamat Hari Pendidikan Nasional”, sudah saatnya pendidikan dan pendidik dihargai dan mengambil peran yang semestinya. Bukan karena apa-apa, tapi karena pendidikan adalah investasi utama suatu negara atau seseorang untuk maju.
Mobile Logic Game
Game ponsel apa yang sering anda mainkan? “Chess”, “Snake”, atau “Solitare”? Ada dua game ponsel favourite saya, keduanya berjenis logic game. Yang pertama adalah Sudoku, game ini salah satu logic game yang asyik karena selain mudah dimainkan juga cukup menantang.
Papan Sudoku terdiri dari 3 x 3 blok yang dibagi lagi menjadi 3 x 3 grid tiap bloknya, sehingga total ada 9 x 9 grid. Untuk memainkan game dari Jepang ini, kita diminta untuk memasukkan angka 1 sampai 9 pada tiap blok. Hal itu dilakukan untuk kesemua blok yang ada, hingga setiap blok terisi angka 1-9 dan tidak ada angka yang sama di setiap kolom dan baris pada papan Sudoku tersebut. Tingkat kesulitannya dibagai dalam 3 kategori, yaitu: easy, intermediate, dan hard. Tapi ada juga beberapa game Sudoku yang membagi lagi kategori hard menjadi hard dan very hard atau diabolic.
Tentu untuk tiap tingkat kesulitan, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya juga bervariasi. Untuk yang easy biasanya butuh 5 menit, intermediate butuh 10 menit, dan yang hard bisa sampai 20 menit. Di Inggris, Amerika, dan Jepang, Sudoku sudah sangat populer dan sering dibahas, bahkan juga dikaji secara rutin di BBC.
Logic game berikutnya adalah Hitori (beda dengan Ninja Hatori
). Sama-sama berasal dari Jepang, tapi
memainkannya berbeda walaupun masih juga terdiri dari angka-angka. Cara memainkannya adalah dengan menghitamkan angka-angka yang ada sehingga dipenuhi 3 aturan berikut ini: 1. Dua blok angka yang dihitamkan tidak boleh terhubung secara langsung baik vertikal maupun horisontal (diagonal diperbolehkan). 2. Di dalam setiap baris dan kolom tidak boleh ada angka tidak diblok yang sama. 3. Setiap angka yang tidak diblok harus saling terkoneksi tegak lurus dengan yang lain.
Untuk ponsel, kedua game tersebut tersedia secara gratis. Hanya butuh java untuk dapat memainkannya di HP. Program tersebut bisa didownload dalam bentuk *.jar di www.getjar.com, dengan nama 5ud0ku untuk Sudoku dan just1 untuk Hitori. Selamat mencoba.
Great Power Comes Great Responsibility
Pernah melihat film Spiderman? Kalau pernah, pasti tahu judul di atas. “great power comes great responsibility“, meskipun cuma di film tapi menurut saya memiliki makna yang sangat dalam. Kekuasaan, kekuatan, kekayaan berbanding lurus dengan tanggung jawab yang harus diemban. Sebuah filosofi yang idealnya harus dimiliki oleh orang-orang yang diberkahi dan diberi nikmat kelebihan dibanding orang-orang disekitarnya.
Semakin banyak / hebat kelebihan yang dimilikinya berarti semakin besar pula tanggungjawab yang harus dipikul dikarenakan kelebihannya itu. Sebenarnya tidak perlu orang-orang hebat, terkenal, atau pejabat sekalipun untuk memaknai dan meresapi filosofi ini. Setiap orang yang hidup di dunia, pasti dibekali kelebihan-kelebihan tersendiri dibanding orang lain disekitarnya. Saya yakin setiap orang juga punya peran masing-masing yang nggak kalah penting walaupun mereka orang kecil.
Berkaca pada kondisi kepemimpinan di sebagian besar masyarakat kita, pola pikir yang lebih banyak berkembang adalah siapa yang paling kuat maka dialah yang “berkuasa”. Sayangnya hanya sedikit yang kemudian melanjutkan dengan pola pikir “great power comes great responsibility” untuk mengontrol kata “berkuasa” tersebut. Akibatnya kekuasaan hanya dijadikan alat untuk memperkaya diri atau untuk kepentingan bisnis pribadi. Kekuasaan menjadi wahana untuk berkuasa kembali dan mempertahankan kekuasaannya. Idealnya, semakin tinggi kekuatan / kekuasaan harusnya semakin takut dia bila tidak dapat memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk melindungi dan mengayomi orang-orang dibawah kepemimpinannya.
Ataukah perlu para pemimpin kita untuk mempelajari filosofi Spiderman tersebut, yang lahir karena menyesal ketika tidak dapat menolong orang yang disayanginya padahal ia punya kekuatan dan kesempatan untuk mencegahnya. Atau menunggu sampai masyarakat di sekitarnya serta cucu-cucunya nanti mendapat getah dari perbuatannya baru memahami bahwa kekuasaan dan kekuatannya itu dapat mencelakakan orang lain bila tidak digunakan dengan penuh tanggung jawab.
OMNeT++ Untuk Simulasi Urban Bus Traffic
Kemarin waktu searching di Google tentang tutorial OMNeT++ dapat satu slide presentasi yang cukup menarik. Slide presentasi ini berasal dari Centre of Mathematical Modelling (CMM), University of Chille. Pada slide tersebut dilakukan simulasi public transportation di Chile dengan menggunakan software OMNeT++. Suatu implementasi sangat menarik, mengingat software OMNeT++ sebenarnya adalah Discrete Network Simulator gratis yang mirip network simulator lainnya seperti NS-2 ataupun OPNET.
Mungkin karena sifatnya yang discrete itu lah bisa digunakan untuk simulasi trafik yang lain asal traffic-nya discrete. Objek yang diteliti pada penelitian tersebut adalah public transportation network di kota Santiago de Chile. Bus dan penumpangnya dianalogikan sebagai paket, jalan raya sebagai links, dan bus stop, terminal serta perempatan jalan dimodelkan sebagai node behaviour .
Skala network yang dimodelkan pun tidak tanggung-tanggung, terdiri dari 5000 tempat tujuan (client host), 11000 jalan raya, 5000 bus, dan 4 juta penumpang.
Implementasi yang cukup menarik dari suatu Discrete Network Simulator. Sepertinya kota-kota besar seperti Jakarta juga perlu dimodelkan seperti tadi, tapi cukup kebayang rumitnya kalo memodelkan Jakarta he..he.. (delay-nya tinggi, jumlah packet-nya juga terlalu banyak). Contoh slide nya ada di sini.
Kesempatan Ikut Mencerdaskan Bangsa
Pendidikan merupakan investasi yang sangat berharga, bila suatu bangsa ingin maju maka pendidikan lah yang harus menjadi investasi utamanya. Saya yakin banyak teman-teman yang ingin ikut menyumbang buah pikirannya, ilmunya maupun pengalamannya kepada masyarakat luas.
Sebentar lagi (sekitar bulan April atau Mei) pemerintah akan membuka jalur akses internet (katanya gratis!! ) kepada SMA/MA di seluruh Indonesia. Hal ini berarti semakin banyak user yang nantinya terkoneksi ke internet dan sebagian besar adalah para pelajar. Bukankah ini kesempatan buat kita-kita yang sudah menempuh pendidikan tinggi untuk sekedar membagi ilmu dan pengalamannya kepada adik-adik kita ini. Dengan internet jarak dan waktu sudah bukan masalah yang berarti, proses transfer pengalaman maupun ilmu pun bisa dilakukan dalam banyak cara, web atau blog bisa menjadi media yang sangat efektif untuk proses ini.
Dengan menulis hal-hal atau apapun lah yang bermanfaat dan positif kita bisa ikut sedikit mencerdaskan bangsa. Siapa tahu adik-adik kita yang imut2 itu bisa mengambil manfaat dari tulisan-tulisan yang kita buat. Mari cemari mereka dengan hal-hal yang positif.
Oh ya sekedar info, lonjakan pengguna internet ini sangat signifikan mulai dari 20 juta sampe diperkirakan nantinya 50 juta user jauh melampaui Malaysia. Info lengkapnya dapat diperoleh di link ini.
Pendekatan Sistemik
Terkadang kita bingung ketika akan memulai sesuatu dan membayangkan hasil akhir dari suatu pekerjaan yang sudah dimulai. Tidak jarang pula kita kebingungan di tengah jalan akibat kesalahan prediksi proses yang sedang dibangun di tengah jalan. Ketika kita sedang menulis sering pula kehilangan ‘flow ’cerita yang sedang kita buat hingga akhirnya selesai dengan tulisan yang kurang terarah pada hasil akhir yang sebelumnya dibayangkan.
Saya pernah membaca buku tentang System Thinking (lupa judul bukunya), pada buku tersebut dijelaskan bahwa penyelesaian suatu masalah dapat kita modelkan dalam suatu pemikiran sistemik. Seperti pada diagram blok di atas, kita dapat memodelkannya kedalam input, system, dan output.Input di sini adalah masalah sedangkan output -nya adalah penyelesaian masalah. Di dalam system kita memproses informasi dari input untuk kemudian disesuaikan agar diperoleh output yang diinginkan. Artinya sebelum memulai penyelesaian masalah harus didefinisikan terlebih dahulu input dan output-nya. Dengan demikian kita mempunyai gambaran jelas tentang permasalahannya dan bisa membayangkan hasil akhirnya. Barulah kemudian mendesain sebuah sistem untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan.
Di dalam blok sistem sendiri, kita bisa membaginya kembali ke dalam beberapa blok yang saling terhubung satu sama lain membentuk sebuah proses yang saling terikat (seperti gambar di atas). Masing-masing blok itu pun terdiri dari input, output, dan blok system. Dengan kata lain ada sistem di dalam sistem, yang apabila blok di dalam sistem tersebut masih memiliki proses yang kompleks, dapat dipecah lagi menjadi beberapa blok sampai diperoleh urutan proses input –> system –> output yang lebih sederhana. Proses pemecahan ini terjadi secara rekursif dan tergantung kepada kompleksitas sistem yang dibuat.
Pemodelan sistem ini dalam dunia rekayasa bisa disetarakan dengan standar formal dari abstraction language dimana dewasa ini telah dikenal adanya UML (Unified Modelling Language) atau SDL (Specification Description Language). Abstraction Language tersebut adalah layer teratas ketika kita mengembangkan suatu sistem sebelum implementasi dengan bahasa pemrograman di layer yang lebih rendah. Selain itu pemahaman dan pendekatan sistem juga jauh lebih mudah dengan model definisi formal seperti itu.
Sejatinya konsep berpikir ini bisa digunakan secara luas diberbagai bidang ilmu, karena sistem berpikir secara sistemik seperti ini mampu mendifinisikan masalah dengan baik serta membantu untuk tetap fokus pada tujuan akhir yang ingin dicapai. Contohnya adalah ketika kita ingin membuat suatu tulisan, apabila kita menerapkan metode berpikir seperti ini langkah pertama yang kita lakukan adalah menetapkan langkah awal tulisan dan juga menetapkan hasil akhir dari tulisan yang kita buat. Apabila input dan output nya sudah jelas, maka dalam menulis kita bisa tetap menjaga flow tulisan sampai akhir. Selain mempermudah hal ini juga akan meningkatkan kualitas dari sistem apapun yang kita buat.
Dosen saya pernah menjelaskan bahwa proses berpikir demikian di Amerika sudah diajarkan sejak masih duduk di bangku SD
Semoga bermanfaat,
Metodogi Penelitian

ditulis dulu atau diketik langsung
Tiga hari pertama mulai ngeblog, saya tulis dulu apa yang akan diposting di buku harianku. Semuanya berjalan lancar, bahkan membuatku menjadi sangat suka menulis. Dalam satu hari, bisa menulis dua sampai tiga tulisan singkat tentang apa yang ada di pikiran.
Hari keempat karena sering bekerja menggunakan laptop, dicoba langsung mengetikkannya di laptop sekalian diposting tanpa menuliskannya terlebih dulu di buku harian. Awalnya cukup berjalan lancar pada hari itu, dua tulisan “selamat” dipasang diblog.
Nah, di hari kelima untuk ngeblog malah agak kehilangan semangat karena jenuh langsung menulisakannya di laptop. Padahal ada banyak yang pengen kutulis hari itu. Akhirnya di hari itu, tidak satupun aku menulis di blog.
Kesimpulannya bahwa menuliskannya di buku terlebih dulu lebih cocok buat saya bila ingin posting di blog. Hari ini, saya kembali menuangkan tulisan saya dulu di buku. Hasilnya isi pikiran lancar dituangkah di dalam tulisan. Ternyata walaupun dunia digital sudah sedemikian canggih memfasilitasi seseorang untuk mengungkapkan ide dan pikirannya. Dalam hal tulis-menulis, saya lebih nyaman menggunakan metode analog memakai pensil dan buku, karena bagi saya menulis dengan cara ini lebih nyaman dan manusiawi (sensenya ada).
Bagaimana dengan anda ? apakah pernah merasakan hal yang serupa ?
NB : tulisan ini saya tulis dulu di buku harian
dokumentasi,,, musuh atau teman?
Dokumentasi ? mungkin inilah hal yang sangat penting dalam suatu running system tapi agak terlupakan. Saya sendiri masih kesulitan dalam melakukan dokumentasi. Ketika kita bekerja dalam lingkungan berbasis IT apalagi yang berbasiskan pelayanan, complaint pun akan sering datang. Ketika complaint itu datang, mau nggak mau harus segera diselesaikan apalagi kalau target layanannya ribuan orang dan termasuk layanan enterprise.
Ngoprek dan troubleshooting dadakan pun tak bisa lagi dihindarkan. Kalau sudah selesai, biasanya urutan-urutan langkah troubleshooting yang baru saja dilakukan pun kelupaan bila tidak segera didokumentasikan. Apalagi kalau kita bekerja dalam suatu sistem dinamis yang berubah dengan cepat. Dokumentasi sering kali ditinggalkan, dan nantinya akan menjadi masalah pelik di kemudian hari. Minimal ini pengalaman saya pribadi loh,,,
Apakah anda mengalami masalah yang serupa? Bagaimana langkah anda dalam menyelesaikan masalah ini? Atau adakah yang tau cara / trik jitu membuat proses dokumentasi begitu menyenangkan?
penulis lepas
Pernah jadi penulis lepas? rasanya menarik banget, secara definisi penulis lepas adalah seorang penulis yang nggak terikat kontrak kan? Terlepas dia digaji atau tidak, yang penting lepas dari kontrak wakakakak. Kalo mengacu dari definisi di atas, para blogger (penulis blog – red) juga bisadisebut penulis lepas kan meskipun tujuannya non-komersial.
Banyak manfaat yang didapat dengan menulis itu,, selain kita bisa memberikan informasi kepada orang lain, kita juga bisa menasihati diri sendiri juga. Sekali lagi “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya“. So dimanapun, nulis lepas aja,, hahahahah
.gif)