penulis lepas
Pernah jadi penulis lepas? rasanya menarik banget, secara definisi penulis lepas adalah seorang penulis yang nggak terikat kontrak kan? Terlepas dia digaji atau tidak, yang penting lepas dari kontrak wakakakak. Kalo mengacu dari definisi di atas, para blogger (penulis blog - red) juga bisadisebut penulis lepas kan meskipun tujuannya non-komersial.
Banyak manfaat yang didapat dengan menulis itu,, selain kita bisa memberikan informasi kepada orang lain, kita juga bisa menasihati diri sendiri juga. Sekali lagi “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya“. So dimanapun, nulis lepas aja,, hahahahah
mental kuatkah?
Seminggu terakhir ini, berita ditelevisi maupun di talkshow-talkshow serius ( bukan yang Tukul loh ini he,,,he,, pisss ^_^). Selalu menampilkan berita atau wacana tentang sistem pendidikan di IPDN buntut dari kematian seorang prajanya. Banyak pihak yang tidak terima dengan sistem pendidikan di sana, apalagi setelah melihat penggalan video yang memeperlihatkan bagaimana praja senior di sana memperlakukan para praja juniornya.
Di dalam video itu, tampak bahwa juniornya tidak melakukan tindakan sama sekali selain diam menahan sakit karena dihantam seniornya. Aneh,,, seharusnya sebagai manusia wajar diperlakukan seperti itu harusnya protes, minimal angkat bicara lah mengeluarkan argumentasinya bahwa mereka tidak mau diperlakukan seperti itu. Bila sistem seperti itu dijadikan alasan untuk mendidik mental mereka, saya pribadi sangat tidak setuju. Gimana mentalnya bisa kuat, menghadapi perlakuan semacam itu saja mereka tidak berani membela diri. Ntar kalo jadi pemimpin kurang bisa berpikir jernih, minimal berlaku adil sama diri sendiri. Saya jadi teringat 3 butir doktrin yang sangat tendensius, kalo nggak salah isinya seperti ini :
- Senior selalu benar
- Bila senior salah lihat pasal 1
- Bila senior sangat2 salah lihat pasal 1 —- ( yang ketiga ini agak lupa, ada yang tau persisnya ?? )
Ya kalo ngelihat tiga pasal di atas, seorang junior yang masih polos dan kurang berani ya bisa aja pasrah sama apa yang dilakukan senior. Apalagi kalo seniornya bener-bener galak. Dilihat dari sudut demokrasipun ini tidak bisa diterima, dari segi mana ini bisa disebut demokrasi ?? Mungkin cara menyadarkannya adalah lewat pendidikan agama, yang menyadarkan bahwa masih ada kekuasaan yang lain dan hanya Dia lah yang patut menyombongkan diri. Manusia mah cuma makhluk-Nya,, yang cuma dikasih setitik kekuatan dan kecerdasan oleh-Nya, jadi nggak berhak sombong, apalagi memperlakukan makhluk lain dengan semena-mena. Menurut saya agama tetap menjadi kebutuhan pokok bila ingin membentuk mental seseorang supaya tangguh dan tahan banting. Bagaimana menurut anda?
Menulis ato Mengetik
Pernah ngerasa jenuh ato males nggak waktu mau ngetik buat postingan di blog?? beberapa hari ini aku merasakan hal seperti itu, ngetik di depan layar komputer menjadi agak jenuh dan membosankan padahal isi pikiran sangat ingin sekali ditumpahkan. Seorang temanku pernah bilang, kalau mau kerja di depan komputer itu sebaiknya kerjakan dulu layoutnya di kertas (kalau mau buat gambar / desaign) atau tulis dulu di buku / kertas ( buat tulisan ). Setelah aku pikir-pikir hal itu ada benarnya juga coz dari kecil kita sudah terbiasa mengungkapkan sesuatu dengan menulis.Masih ingat ketika waktu SD sering sekali disuruh membuat sebuah tulisan tentang pengalaman ketika liburan saat hari pertama masuk Cawu baru ( red-sekarang semesteran ).
Ya aku pikir esensi menulis blog juga tidak jauh berbeda dengan menulis cerita tentang pengalaman yang didapat selama masa liburan. Cuma bedanya adalah media cara penyampaiannya, kalo blog entrynya adalah dengan mengetik sedangkan untuk cerita seperti di atas entrynya dengan menuliskannya di atas kertas.
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk analog yang lebih mudah bekerja dan menyesuaikan diri dengan hal-hal analog berbeda dengan robot atau komputer yang bekerja secara digital, mendapat input dalam bentuk digital. Menulis termasuk dalam kegiatan analog, coz ketika membentuk huruf A tangan kita akan bergerak membentuk huruf itu dari kumpulan titik menjadi kumpulan garis kemudian membentuk huruf A. Sedangkan kegiatan mengetik tidak demikian, huruf A akan terbentuk secara otomatis hanya dengan menekan tombol Shift+a. Sehingga ketika mengetik ada sense yang hilang, dalam hal ini adalah power yang merupakan ekspresi hati ketika mengungkapkan sesuatu ke dalam bentuk yang mudah dibaca.
Namun dalam era digital seperti ini dimana semua hal ingin dikerjakan secara digital dan cepat, manusia akan juga dituntut untuk menerima budaya mengetik tersebut. Sebagaimana anak TK yang mulai belajar menulis, kita nantinya juga harus belajar mengetik dengan baik (cepat dan benar).
Bagaimana dengan anda,, lebih baik mengetik atau menulis??