Tidak Mudah Vs Sulit
Ketika berusaha menyelesaikan suatu masalah pelik, lebih baik mengatakan “tidak mudah” atau “sulit”? Dua frase kata yang bersinonim atau memiliki arti yang sama, tetapi memiliki makna penggunaan yang berbeda.
Perbedaan ini saya dapatkan sewaktu mengikuti kuliah dosen saya kemarin. Pemakaian kata “sulit” pada penyelesaian masalah cenderung ‘pesimis’, sedangkan kata “tidak mudah” lebih mencerminkan ‘optimisme’ .
Bila dirasa-rasa memang ada benarnya, ketika menghadapi masalah dan mengatakan “penyelesaiannya memang sulit!”, seketika itu urat syaraf di tubuh kita seperti kehilangan tenaga dan semangat, pintu pikiran kita seakan-akan tertutup menuju pintu penyelesaian.
Lain halnya bila kalimat yang diucapkan “penyelesaiannya memang tidak mudah!”. Kata ‘mudah’ seperti memberi angin sejuk bahwa walaupun berbelit-belit dan butuh perjuangan tapi masih bisa diselesaikan. Kemudian pikiran kita akan bekerja mencari celah-celah penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.
Mungkin juga karena kita sudah akrab dengan Bahasa Indonesia dan sudah menjadi bahasa ibu, sehingga nilai rasa itu meresap ketika diucapkan. Tapi saya rasa orang bule juga akan memiliki rasa yang berbeda ketika mengucapkan “it’s not easy” dengan “it’s difficult“. Bagaimana menurut anda?
jadi inget waktu SMA dulu ada temen yang gak mau nyebut kata “masalah”, melainkan dia memakai kata “tantangan”. dengan begitu, setiap dia ada “masalah”, dia menganggapnya sebagai “tantangan” yang harus ditaklukkan
“tidak mudah” masih mengandung sedikit rasa pesimis.
bagaimana kalau diganti dengan kata “menantang”?
pernah baca katanya secara refleks otak bawah sadar kita tidak memproses kata yang diikuti oleh kata negatif, contohnya kata “tidak”. Jadi kata “tidak mudah” secara refleks pertama kali akan diproses sebagai “mudah”. Atau contoh lain coba sekarang kamu jangan memikirkan makanan, pasti pertama kali yang muncul adalah makanan..
senada seperti yang laen, kalo pernah baca ato nonton the secret, apa yang kita fokuskan, itu yang akan kita dapet.
tinggal kita yang menyiasatinya bagaimana yang terbaik
Iya.. memang semua pendapat benar.. ada berbagai macam teori tentang hal ini. Mengubah kata ‘masalah’ menjadi kata ‘tantangan’ bisa menimbulkan semangat bagi seseorang terutama bila dia menyukai tantangan.
Tapi jangan sampai afirmasi yang terus menerus itu menyebabkan kita hilang kendali / hilang kewaspadaan. Terlalu menyukai tantangan kadang kala membuat kita lupa untuk mensyukuri waktu lapang yang ada.. padahal itu juga sebuah nikmat
. Ya karena flow hidup itu berubah-ubah, tergantung bagaimana menyikapinya. Allahu’alam
Mengenai penelitian tentang kata ‘tidak’, terus terang saya tidak mau meyakini secara total.. Terlalu riskan untuk dianggap mutlak benar, karena di dalam banyak kitab suci.. Tuhan melarang manusia berbuat sesuatu dengan kata ‘tidak’. Sehingga sangat tidak cocok hasil penelitian itu. Kalau pendapat saya, dan disebutkan didalam kitab suci saya (Al Qur’an), hidup manusia pasti selalu diinterfensi oleh godaan setan.. bila ada larangan (dan biasanya memakai kata tidak) pasti agak berat dilaksanakan oleh sebagian besar kita. Hemat saya, itu adalah godaan setan, bukan karena kata ‘tidak’ (minimal dalam konteks ini).
Mengenai film the secret, sebenarnya 14 abad yang lalu sudah disebutkan. Innamal akmalu bin niat..
Btw… senang dengan pendapat teman-teman semua.. masukan yang sangat berarti
.
Just my 2 cent,
Salam
sepertinya sama
sama-sama tidak mudah , dan sama2 sulit
dalam buku “zero to hero” disebutkan perbedaan antara ungkapan
1. masalah itu “sulit tapi bisa dikerjakan”
dengan
2. masalah itu “bisa dikerjakan tetapi sulit”
kalau km, pilih yang mana Ndra..hayoo…
@erireng2
Kalau saya pilih.. “walaupun tidak mudah, masalah ini bisa diselesaikan.. ”
Jadi inget waktu tes wawancara beberapa tahun silam.
Apa pendapatmu mengenai gelas ini? Kata pewancara sambil menunjuk gelas yang baru diminum separuhnya (baca setengah-nya).
…
singkat cerita
Orang yang optimis: “Air dalam gelas tsb masih berisi separuh”
Orang yang pesimis: ” Air dalam gelas tsb telah berkurang separuhnya”
@jmzach
memang bisa juga untuk mengetahui kondisi psikologis seseorang…
sepertinya waktu itu, bapak menjawab pilihan yang optimis