Internet Access Per Host
Dulu awal-awal Microsoft berkembang, Bill Gates punya suatu impian dimana setiap rumah di US mempunyai satu PC (Personal Computer) sendiri-sendiri, sekarang PC sudah menjamur di berbagai negara. Beberapa tahun belakangan ada ide yang dilontarkan oleh Nicholas Negroponte dimana dia mengembangkan notebook dengan harga terjangkau dengan harapan setiap orang bahkan seorang anak sekalipun memungkinkan untuk memilikinya. Proyek ini dinamakan OLPC (One Laptop Per Child), saat itu laptop mini tersebut direncanakan dijual dengan harga $100. Dua tahun ini sudah muncul laptop-laptop mungil berkonsep OLPC tersebut, salah satunya Asus Eee PC.
Nah sekarang sepertinya cocok kalau kita menunggu layanan akses internet murah he..he.. Mungkin nantinya akan ada jargon seperti internet access per host, setiap device yang support teknologi internet (IP based) bisa akses internet dimanapun dan kapanpun dengan harga murah (sangat berharap hihi). Apalagi sekarang sudah marak penggunaan IPv6, sehingga kekhawatiran akan kekurangan IP Address sedikit berkurang, device seperti HP, PDA, UMPC, Laptop, ataupun PC bisa terkoneksi ke internet dengan lebih mudah.
Sebenarnya sekarang pun device-device di atas sudah bisa terkoneksi ke internet dengan mudah. Tapi kekurangannya hanya satu, yaitu kurang murah he..he.., jadi agak enggan juga koneksi dari device seperti HP atau PDA dengan menggunakan jaringan GPRS atau 3G untuk browsing di internet.
Mungkin salah satu syarat utama agar internet access per host dapat terwujud adalah harganya murah, seperti OLPC yang dibandrol dengan harga murah itu, akibatnya banyak yang rela antri beli. Biasanya harga jual suatu teknologi akan turun bila ada teknologi baru yang lebih baik masuk ke pasaran. Sepertinya tidak akan lama lagi karena WiMAX juga sebentar lagi datang atau ketika konsep RT/RW Net nya pak Onno sukses. Semoga.
nah, syarat harga murah itu juga mensyaratkan bermacam syarat yang lain, yang terkadang gak cuman masalah teknis dan itung-itungan, tapi juga politik dan permainan tingkat atas. inilah yang susah. variabel yang harus dimainkan terlalu banyak. gak akan jadi masalah kalo variabel yang banyak itu bisa diproses dalam superkomputer yang cepat sehingga masalah-masalah bisa selesai.
masalahnya, yang bikin program untuk menyelesaikan problem harga dengan variabel yang berbagai macam itu bukan seorang coder, jadi programnya ngeloop terus secara tak terbatas dan tak pernah mencapai titik akhir.
just my 2 cents. ngelindur opo iki aku ndra
@reditya
he..he.. ngelindurmu sistematis za :D.
Iya memang benar, kalo layer OSI itu 7 layer nah ini ada layer di atasnya lagi. Yaitu Money Layer dan Politic layer.. hahaha.. itulah yang susah
Internet di Indonesia itu mahal karena ada komponen impor yg recurring: Bandwidth ke luar negeri. Susah juga itu dibuat murah, karena posisi tawar Indonesia lemah, karena Indonesia berada di pihak yang butuh. Alternatifnya : Indonesia bikin Internet sendiri. Toh Internet dipakai utk berkomunikasi dgn orang2 Indonesia sendiri. Kalau sudah kayak gitu, baru deh Internet itu harganya bisa 0,0000…1 rupiah.
Iya memang karena Bandwidth kebutuhannya kontinu, beda dengan OLPC yang sekali kita beli berarti sudah tidak ada ikatan kuat lagi dengan penjualnya.. Harganya just at that time…
Semoga para operator seluler bisa menekan lagi tarif 3G dan GPRS nya, supaya akses packet datanya (untuk internet) bisa merakyat..